Sarapan pagi dengan mengingat mati
Ditemani secangkir kopi
untuk meluaskan hati
agar tak terus terbelenggu tipu daya duniawi
Sungguh berat kesadaran merasuk sukma
Menghadirkan si pemutus segala bahagia
Selama hidup di dunia
Ketika jiwa masih saja terus memuja
Segala keinginan raga
Kemana gerangan mencari kebenaran
Agar tetap berdiam dalam kesadaran
Jika kematian tak bisa dihadirkan
Di setiap hela napas yang dihembuskan
Segala hakekat akan terungkap
Jika mata hati tak sekejap
pun luput dari selalu mengingat penuh harap
Agar cahaya-Nya terus mendekap
Direlung hati yang kini mulai terasa pengap
Karena laku selalu ada di jalan-jalan yang gelap
Yaitu peradaban kufur sekulerisme yang bejad
Logika mana yang bisa mengurai segala perkara
Di balik apa yang nampak ada
Jika kesadaran iman tak jua
Menembus segala makna
Yang Allah wahyukan kepada Muhammad saw al-Mustofa
Semua hanya akan berakhir nestafa
Karena kematian logika
Sebuah keniscayaan bagi pemuja kapitalis yang durja
Andai saja kematian menjadi pengikat segala hasrat jiwa dan raga
Tentunya manusia-manusia pemuja dunia
Dan manusia-manusia pemuja demokrasi yang penuh dusta
Tak akan lagi memiliki rasa percaya
Tentang segala kepalsuan ideologi yang hanya menghamba
Pada kekuatan nalar semata
Semua hanya akan berakhir sesal dan nista
Ketika hidup setelah mati tiba
Tidakkah cukup jadi pelajaran
Wahai para pemuja demokrasi yang sudah keterlaluan
Bahwa kematian adalah sebuah keniscayaan bagi seluruh insan?
Yang nanti akan jadi sesalan
Bagi mereka-mereka yang selama hidupnya tidak menjadikan al-Quran
Sebagai panduan dan aturan bagi seluruh aspek kehidupan
Sungguh tragis dan amat miris
Mengaku muslim tapi tak pernah ada tangis
Hadirkan diri agar terus mengemis
pada-Nya agar hidup kembali manis
Dengan menjauhkan kepalsuan demokrasi yang penuh najis
Hanya dengan mengingat mati tiada henti
demokrasi akan hilang dari hati
dan berganti wahyu Allah yang suci
Jadi teman sejati
Membangun diri sampai membangun negeri
Sampai kematian tiba pada diri.