Menu Tutup

Pemahaman bahwa hakekat atheisme adalah mempercayai Tuhan yang tak terukur dan tak terbandingkan adalah pengertian yang paradoks dengan makna harfiah dan fakta persepsi dari para penganutnya.

Dari segi harfiah/etimologi atheisme artinya, a= tidak; theis= Tuhan; isme= pemahaman yang lahir dari keyakinan tertentu.

Jadi atheisme adalah pemahaman yang lahir dari keyakinan untuk tidak percaya adanya Tuhan.

Dari sisi fakta, kaum atheisme mewujudkan keyakinannya untuk selalu menafikan peran Tuhan dan agama dalam mengatur kehidupannya.

Jadi, ketika ada definisi yang mengartikan bahwa atheisme adalah mempercayai Tuhan yang tak terukur dan tak terbandingkan adalah sebuah kebohongan besar.

Kecuali, pengertian tersebut memiliki definisi dan pemaknaan yang berbeda dengan definisi yang sudah ada.

Jika definisinya berbeda, berarti makna harfiah dan istilahnyapun harus diganti, bukan mengikuti pada istilah dan harfiah yang berbeda dengan definisi yang dimilikinya.

Jika sebuah definisi milik siapa saja yang memiliki persepsi, artinya salah satu fungsi para Rasul diutus menyampaikan wahyu Allah kepada manusia untuk meluruskan persepsi manusia dalam memaknai segala hal tentang pengertian memahami kehidupan agar tidak dibawa ke arah yang manusia inginkan, kita tidak perlu lagi mengikuti apa kata Agama dan Allah. Ikuti saja apa maunya manusia.

Jika orang bebas mendefinisikan kentut, maka hancurlah kehidupan ini gara-gara beda definsi tentang kentut karena tidak adanya konvensi terhadap sebuah definsi. Yang benar nantinya hanya satu, yaitu keabsurdan.

Ketika banyak tafsir, apakah berarti banyak definisi yang berbeda? Kita ambil contoh. “kutiba alaikumusyiaam”. Adakah perbedaan para ulama tafsir mendefinisikan, telah diwajibkan atas kalian untuk puasa? Apakah ini perkara yang boleh bebas orang menafsirkan?

Ketika para mufasir menafsirkan yadullah (tangan Allah), ada perbedaan mendefinisikan makna yadullah. Tapi lagi-lagi Islam punya standar. Selama tafsiran yang berbeda tadi tidak bertentangan dengan ayat yang lain, atau tidak bertentangan dengan wahyu Allah, sah-sah saja orang berbeda.

Intinya, ada wilayah yang pasti, ada wilayah yang dzonni; ada wilayah ushul ada juga wilayah furu’.

Selama pendapat itu tidak bertentangan dengan al-Qur’an, sunnah, ijma’ sahabat, dan qiyyas syariyyah, maka perbedaan itu tidak diartikan beda definisi.

Kembali pada persoalan hakekat atheisme. Kesimpulan bahwa makna atheisme adalah tuhan yang tak terukur dan tak terbandingkan adalah cara berpikir ganda yang dilakukan oleh seseorang yang mengaku masih beragama, tapi ia lebih cenderung mempercayai atheisme-komunisme-sosialisme.

Di satu sisi ia tidak mau dikatakan sebagai orang yang tidak beragama. Di sisi yang lain, ia sudah tertipu oleh halusinasi pikirannya yang menganggap bahwa ajaran komunisme-sosialisme adalah sebuah ajaran yang benar.

Akhirnya, ia terkungkung oleh cara berpikir yang munafik. Dohirnya masih percaya pada Tuhan. Tapi keyakinannya sudah dibelenggu oleh jeratan sosialisme-komunisme. Wallaahu a’lam