Menu Tutup

Surat Terbuka dari Seorang Mantan Ulama

Dahulu ketika aku belum terkenal, dan belum sekaya hari ini, aku begitu ikhlas dan istikomah tiada henti mengajarkan dan membimbing umat di jalan Allah.

Tak ada kata lelah dan putus asa meski kehidupanku serba kekurangan. Tapi aku terus berjuang menegakkan kalimat Allah. Dari musola ke musola; dari mesjid ke mesjid; dari majlis talim ke majlis talim; dari kampung ke kampung. Semua aku lakukan untuk mendidik umat dan membimbing umat di jalan Islam.

Aku tidak pernah mengharapkan apapun dari manusia. Tapi cukup hanya berharap ridho dan pahala dari Allah.

Namun seiring berjalan waktu, sedikit demi sedikit imanku goyah, idealisme mulai luntur, dan kehidupan sederhanaku berubah. Entah darimana setan itu masuk ke pikiran dan badan? Yang jelas, ketika aku mulai dikenal banyak orang karena keilmuan dan keikhlasanku dalam mendidik umat, sedikit demi sedikit banyak yang menawarkan kebaikan padaku.

Dari mulai yang ingin membantu kebutuhan sehari-hariku yang sangat sederhana, sampai yang mau membangunkan mesjid, pesantren, dan segala pasilitas material.

Awalnya aku tolak. Lama kelamaan, semakin banyak yang datang ke pondok pesantren milikku yang sederhana itu. Dari mulai pengusaha, anggota dewan, Bupati, Gubernur, Menteri, sampai Presiden mengunjungiku.

Begitu halusnya setan menggoda, sedikit demi sedikit aku mulai diundang di intansi-intansi pemerintah untuk mengisi khutbah, pengajian, syukuran, sampai tabligh akbar.

Hari ke hari kehidupanku mulai berubah. Pergaulanku sekarang tidak luput dari lingkaran kekuasaan. Umat, rakyat jelata, dan para mustadhafiin mulai tidak aku perhatikan.

Aku lebih sibuk bergaul dengan pengusaha dan penguasa. Akhirnya segala kemewahan dunia telah aku dapatkan dari mereka.

Aku pun larut dalam kehidupan dunia.
Ayat-ayat Allah yang aku sampaikan harus sesuai dengan apa yang dikehendaki penguasa, bukan lagi apa yang dikehendaki Allah dan RasulNya.

Karena setan sudah menguasai kehidupanku, saat ini aku putuskan untuk berhenti jadi ulama.

Aku sadar, kalau aku benar-benar menjadi ulama sesuai ajaran Islam, tentu langkahku saat ini telah mengkianati Allah dan RasulNya.

Harusnya ulama itu takut hanya kepada Allah. Tapi justru aku takut pada penguasa. Karena aku takut penguasa tidak lagi memberiku kekayaan dan jabatan.

Aku juga tidak ingin mengkhianati umat yang telah percaya padaku. Aku tidak ingin terus-terusan membohongi diri sendiri, membohongi Allah, dan bohongi umat.

Maka saat ini, detik ini, aku putuskan untuk berhenti jadi ulama. Aku hanya ingin jujur sebagai manusia yang lebih cinta pada dunia daripada akhirat. Aku tidak mau menjadi ulama yang setiap hari sibuk mencari dalil untuk membenarkan kesesatan, kebatilan, dan kemaksiatan penguasa zalim yang aku dukung. Dan aku pun sibuk juga mencari nash-nash, baik dari al-Quran atau hadits, untuk melegalkan usahaku mencari dunia ketika dekat dengan penguasa.

Aku tidak ingin munafik. Aku ingin terang-terangan, bahwa aku ingin berhenti sebagai ulama dan berkarir sebagai pecinta dunia yang sejati. Supaya apa yang aku lakukan tidak lagi atas nama agama yang dosanya berlipat ganda. Aku sudah membohongi diri sendiri, Allah, dan umat, padahal sebenarnya yang aku bela itu bukan Islam, tapi harga dunia.

Maafkan aku yang jujur untuk berhenti sebagai ulama karena cintaku yang begitu besar pada dunia. Daripada aku tetap sebagai ulama, tapi aku khianati Allah, Rasul, dan orang-orang mukmin.

Maafkan aku yang cinta dunia dan takut mati karena aku ingin merasakan nikmat dunia sepenuh jiwa.

Tertanda
Aku yang hina
Atas nama mantan ulama