Sulit juga aku menemukan dirimu yang tak henti aku nantikan.
Padahal pikirku mencoba selalu terjaga
memahami fakta. Meskipun masih lemah menggali hukum yang terkait fakta.
Mungkinkah karena rasaku yang dominan menyimpulkan hasil dari menghukumi fakta, yang menjadikan gairah rinduku padamu tak juga terbalaskan?
Sungguh sayangku memuncak. Tapi pikirku merangkak.
Aku ingin raih mafhum yang benar
dengan dalil yang tepat, dan panca indera membaca fakta dengan sempurna.
Namun sayang, lagi-lagi aku harus mendapati kebingungan yang belum juga berujung.
Aku tetap dalam kerinduan yang tak juga meleburkan kesadaranku dalam niat, pikir, ucap dan tingkahku dari deretan pemahaman, yang membanjiri setiap kegelisahanku memahami fakta diri dan luar diri.
Aku pun kini hanya bisa gelisah dalam pikir. Dirimu tak juga hadir dalam untaian makna.
Goresan tanganku belum juga bisa memetakan kehidupan menuju perubahan peradaban dengan hurup-hurup konsonan dan vokal yang menjelma menjadi kata menuju kalimat sempurna. Kalimat sempurna yang berwujud jutaan paragraf menuju pada kesempurnaan makna.
Sungguh saat ini aku rindu padamu. Engkau bimbing jari-jemariku menuangkan jutaan kata yang hanya ingin menggerakkan umat agar kembali pada fungsi hakiki hidupnya(menjadi hambaNya semata).
Namun sayang seribu kali sayang, aku masih saja diam menunggumu dalam renungan-renungan kegelisahan pikir dan rasa membaca diri dan dunia.
Oh inspirasiku, akankah rinduku ini mendekap utuh makna hakiki perjuangan pena wujudkan peradaban berbasis wahyu?
Hanya keringat pengabdian padaNya, yang bercucuran tiada henti mampu menjawab semua rinduku ini.