Menu Tutup

Meluaskan Hati, Menampung Perbedaan

Meluaskan hati seluas lautan untuk menampung segala keluhan, cacian, dan kebencian, merupakan kemestian bagi siapa saja yang sudah mengakadkan diri menjadi penjaga dan pembela Islam yang terpercaya.

Jika masih ada amarah dan keangkuhan diri dalam mengemban dakwah Islam untuk diwujudkan kembali dalam seluruh aspek kehidupan, janganlah berharap pertolongan Allah akan datang, dan jangan harap akan menjadi pribadi yang terpercaya dan tangguh. Karena hakekatnya mengemban dakwah ideologi Islam itu tiada lain bagaimana kita mengelola peradaban dunia yang di isi oleh miliyaran kepala antara yang satu dengan yang lainnya memiliki keinginan, kecenderungan, pemikiran yang berbeda.

Jika kita tidak memiliki kesadaran komprehensif memahami realitas umat manusia yang beragam tadi dengan pemahaman Islam yang matang, mendalam, dan menyeluruh, jangan harap bisa mengurus peradaban dunia.

Jangankan peradaban dunia, faktanya mengurus dan mengelola amarah dan naluri eksistensi kita sendiri, kita sudah dikalahkan oleh keakuan diri yang telah menguasai kesadaran akal kita.

Jika benar kita ingin menaklukan dunia dan kita dipersiapkan menjadi pengurus, pengatur, dan pemelihara urusan umat manusia, apa mungkin kita mampu mewujudkan cita-cita agung ini, jika untuk persoalan pengelolaan dan manajemen diri sendiri, kita sudah kewalahan dan kalah oleh naluri baqa kita sendiri.

Tidak ada manusia sempurna, dan tidak akan pernah ada kesempurnaan yang dimiliki seorang yang namanya manusia, selama diri selalu menilai dan menganggap luar dirinya adalah rival, musuh, dan ancaman bagi eksistensi dirinya di tengah-tengah manusia yang lain.

Justru dengan bersikap seperti itu, akan semakin jauh harapan untuk menjadi mmanusia yang terpercaya, muslim yang terpercaya sebagai penjaga Islam terbaik dalam pandangan Allah.

Menjadi muslim yang terpercaya dan menjadi pengemban dakwah yang terpercaya sebagai pembela Islam terbaik, itu hanya akan berakhir dalam benak, jika kita tidak pernah mau belajar memahami perbedaan, kita tidak mau belajar memahami keinginan luar diri kita, tidak mau belajar menerima realitas manusia yang kompleks dan heterogen. Karena faktanya aktifitas dakwah yang kita jalani adalah menghadapi manusia, bukan robot.

Hanya dengan kembali pada Islam, pada syariat Islam, kita berdakwah dan melebur di tengah-tengah lautan umat manusia yang kompleks dalam persoalan hidup, pemikiran, dan keinginan yang beragam, supaya aktifitas dakwah tetap berlangsung dan meraih hasil yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Kembali pada persoalan, bahwa inti meluaskan hati seluas lautan bagi seorang pengemban dakwah, adalah salah satu faktor terpenting untuk menjaga keharmonisan dakwah, baik dengan sesama pengemban dakwah atau ketika terjun di tengah-tengah umat untuk menyeru mereka agar berjuang bersama-sama mengembalikan kehidupan Islam.

Jika hati seluas lautan, mungkin perbedaan akan berenang gembira di hati kita.

Jika pikiran sedalam lautan, mungkin kita akan memahami persoalan kehidupan dengan pemikiran yang matang, penuh kehati-hatian, tidak mudah memutuskan secara emosional, tidak gampang memvonis, penuh kebijaksanaan, penuh kearifan, penuh keadilan, dan penuh kasih sayang.

Sayang, hati dan pikiran kita belum seluas dan sedalam lautan. hati dan pikiran kita baru seperti air dalam gelas, luasnya terbatas dalamnya dalam kedangkalan. Sehingga dengan mudah semua mata mampu menelanjangi hati dan pikiran kita.

Tapi, tidak usah malu, tidak usah kita gengsi, dan haram kita menutupi kekurangan dengan keangkuhan. Daripada kita mengaku bahwa hati kita seluas lautan, tapi kenyataannya kita tidak mau menerima perbedaan dan mudah marah karena ada yang menentang; dan daripada kita mengaku punya pikiran sedalam lautan, tapi kenyataannya kita selalu subjektif memandang persoalan, selalu merasa paling benar sendiri, selalu ingin menang sendiri, dan selalu menolak kebenaran dan perbedaan luar diri kita. Wallahu a’lam