Menu Tutup

Ketika Merasa Punya Cahaya

Jika gelapku karena noda, apakah cahaya hanya jatuh pada yang bersih dan suci? Sementara orang-orang suci, selain para Nabi dan Rasul, mereka semua pernah bermain dengan noda.

Ada yang bergegas mandi. Ada yang hanya cuci muka. Ada yang hanya membasuh tangan. Atau ada juga yang lama tak mandi, tak cuci muka, dan basuh tangan.

Begitupun juga, ada yang saat badan kotor,
tak nyaman duduk, tak nyaman berjalan,
tak nyaman berteman, tak nyaman tidur,
mereka baru bergegas mandi.

Bagaimana dengan yang tak mau mandi di laut, di sungai, di kamar mandi, atau tak mau sekadar cuci muka dan basuh tangan pada kran?

Aku tak ingin seperti Kambing. Jika mandi badannya jadi kena borok. Dengan bau khasnya kambing, badannya akan selalu aman dari penyakit kulit jika tak kena air.

Aku bukan Kambing. Jika gelapku karena noda, apakah cahaya hanya mau menerangi yang suci?

Jika aku merasa suci karena amal solehku, apakah layak surga bagiku? Padahal, hanya Allah semata yang Maha Kuasa mensucikan atau mengelamkan hati, pikiran, ucap, dan tingkahku.

Sungguh tak tahu diri, jika aku merasa yakin akan masuk surga karena amal solehku dan selalu diri ini merasa suci.

Bukankah itu suatu bukti bahwa hakekatnya hidupku penuh noda, kotoran, dan kenajisan yang selalu aku sangka sebagai kebajikan, kesolehan, dan merasa dicintai yang Maha Suci?

Tak habis aku mengerti, mengapa noda dan suci yang selalu jadi ukuran menghinakan atau memuliakan manusia, yang semuanya dalam kuasa Allah yang Maha Suci dari segala kekotoran prasangka dan pikiran mahluknya yang selalu berlaga dan sok suci?