“Saat aku menasihati bukan berarti aku adalah lebih baik dibanding kalian, bukan juga yang paling soleh di kalangan kalian, aku pun pernah melampaui batas untuk diriku sendiri. Seandainya seseorang hanya boleh berdakwah apabila dia sempurna, niscaya tidak akan ada pendakwah, maka akan jadi sedikitlah orang yang memberi peringatan.” (Imam Hassan Al-Basri)
“Urus dulu diri sendiri baru mengurus orang lain; solehkan dulu diri sendiri baru menyolehkan orang lain; terapkan dulu syariat pada diri sendiri baru mengajak orang lain menerapkan syariat; dakwahi dulu diri sendiri baru mendakwahi orang lain”.
Itulah mungkin yang sering kita dengar. Tidak sedikit orang yang memiliki pandangan di atas. Salahkah pernyataan-pernyataan di atas?
Tergantung persepsi dan sudut pandang yang memahaminya. Yang jelas, mengurus diri, mensolehkan diri, menerapkan syariat pada diri, mendakwahi diri sendiri, dan seterusnya, adalah perkara yang wajib dilakukan oleh setiap muslim.
Namun, harus di ingat, kewajiban yang harus ditunaikan oleh diri sendiri dan oleh setiap diri, seperti halnya dakwah, menyeru umat dan manusia secara keseluruhan agar memeluk Islam, menerapkan Islam, mendakwahkan Islam, menjaga Islam, dan menyebarkan Islam adalah kewajiban setiap muslim.
Sungguh menjadi aneh, jika urusan dakwah menyeru luar diri agar memeluk Islam atau mengamalkan Islam secara kaffah seolah-olah tidak boleh dilakukan sebelum diri sempurna.
Kalau faktanya demikian, lantas, siapa yang akan menyeru Islam dan mendakwahkan Islam?
Kalau menunggu setiap diri sempurna, sebelum menyeru orang lain agar sempurna juga, kira-kira, mungkinkah kesempurnaan itu akan diketahui kalau yang menilai adalah diri kita sendiri?
Justru dengan menyeru kepada luar diri, hakekatnya kita sedang menyeru diri sendiri dan kita punya peluang besar untuk terus memperbaiki diri ketika orang lain kita seru.
Dengan menyeru orang lain, hakekatnya orang yang kita seru agar mengingatkan kita, jika dalam diri kita terdapat kekurangan dan kesalahan.
Bayangkan, jika orang sibuk menjadi soleh bagi diri sendri, akankah nampak kesolehan pada setiap diri?
Semuanya tidak akan pernah terjadi. Sebab, kita tahu soleh dan tidaknya diri kita, pada saat kita selalu menyeru orang lain agar tetap soleh, agar menjadi soleh, atau agar orang lain semakin soleh.
Dengan menyeru orang lain kepada Islam, hakekatnya kita sedang menyeru diri kita sendiri agar tetap berpegang teguh kepada Islam dalam seluruh aspek kehidupan sesuai dengan optimalisasi kemampuan yang kita miliki.
Selanjutnya jika ada orang Islam yang bilang, “Urus saja dulu diri sendiri dan keluarga supaya menjadi baik, jangan dulu menasehati orang lain apa lagi ngomong masalah urusan Negara”.
Tanpa dia sadar, dia telah meninggalkan salah satu kewajiban yang Allah bebankan pada setiap muslim, yaitu dakwah.
Jika alasannya ingin mensolehkan diri dan keluarga terlebih dahulu, baru nanti setelah soleh mengajak orang lain pada Islam. Lalu pertanyaannya, apakah ada jaminan kita akan soleh ketika hanya fokus mengurus diri sendiri dan keluarga?
Siapa yang bisa mengukur kesolehan kita, apakah diri sendiri yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan, ataukah Allah swt?
Jika yang menjadi ukuran soleh dan tidaknya adalah diri kita sendiri, bukankah kita sendiri berada dalam kekurangan?
Jika yang menjadi ukuran soleh dan tidaknya adalah Allah, mengapa kita tidak mau melaksanakan kewajiban dakwah dengan alasan kita sendiri masih banyak kekurangan?
Bukankah dengan berdakwah atau mengajak orang lain pada Islam, hakekatnya mengajak kita supaya taat dan tunduk pada Islam dan menjadikan kita bisa terus memperbaiki diri?
Jika kita masih keukeuh ingin mensolehkan diri kita sendiri atau keluarga terlebih dahulu, sementara kita tetap tidak mau berdakwah, terus pada saat bersamaan Allah mencabut nyawa kita, bukankah pada saat itu kita mendapatkan dua kerugian?
Pertama, kita tidak melaksanakan kewajiban dakwah karena kita sibuk mengurus diri sendiri.
Kedua, saat kita sibuk mengurus diri sendiri, tanpa mau sedkitpun ada keinginan mengurus urusan umat dan agama, berarti kita bukanlah termasuk umat Muhammad saw. Naudzubillaahi min dzaalik.