Menyayangi orang yang menyayangi kita adalah hal yang lumrah. Tapi menyayangi orang yang membenci kita adalah sikap yang mewah.
Ketika Rasul saw. berdakwah selalu tegas dan konsisten memegang prinsip kebenaran. Beliau saw. tidak pernah bermanis muka terhadap para penguasa atau kepada orang-orang yang memiliki kedudukan.
Cacian, makian, penganiayaan, sampai pada perencanaan pembunuhan adalah bukti Rasul saw. tidak pernah berkompromi dalam menyampaikan kebenaran meski harus kehilangan nyawa sekalipun.
Namun pada saat yang bersamaan Rasul saw. tidak pernah memiliki rasa benci sedikitpun pada orang-orang yang membenci dirinya dan benci terhadap dakwahnya.
Sebaliknya, Beliau saw. selalu memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus pada mereka semua.
Ada pelajaran yang sangat berharga bagi para pengemban dakwah untuk menjadikan Beliau saw. sebagai satu-satunya uswah dalam mengarungi dakwah:
- Tidak boleh kita bermanis muka dan menjilat dalam berdakwah.
- Rasa cinta yang tulus pada sesama adalah hal yang mesti dimiliki oleh para pengemban dakwah.
Lantas, bagaimana memadukan anatara bersikap tegas dan tidak bermanis muka saat menyampaikan kebenaran Allah, tapi pada saat bersamaan selalu menghadirkan cinta karena Allah pada saat berdakwah?
Jika salah satunya tidak ada pada seorang pengemban dakwah, maka dakwah tidak akan mengantarkan pada perubahan, baik pada si pengemban dakwah atau pada orang yang diserunya.
Adakalanya seorang pengemban dakwah tegas dan tidak bermanis muka ketika melakukan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar. Tapi dia tidak memliiki rasa cinta pada Allah dan karena Allah.
Dalam kondisi seperti ini, dakwah tidak akan memberi implikasi yang positif. Orang akan menerima kebenaran, tapi penerimaan tersebut terhalang oleh kebencian pada si pengemban dakwah.
Adakalanya seorang pengemban dakwah bermanis muka dan lembek dalam menyampaikan kebenaran karena mungkin takut kehilangan “mata pencaharian”, kedudukan, atau kehormatan di tengah umatnya.
Mungkin dakwahnya akan diterima oleh umat dan umat akan mencintainya karena keinginan umat diikutinya.
Mentalitas pengemban dakwah seperti ini tidak akan membawa umat pada kebenaran Allah, justru akan semakin membuat umat tetap berada dalam kejumudan dan jauh dari cahaya kebenaran Allah.
Seharusnya seorang pengemban dakwah tegas dalam menyampaikan kebenaran tanpa lagi ada pertimbangan apakah dakwahnya diterima atau ditolak.
Ia hanya fokus pada aktivitas amar ma’ruf nahi munkar. Tapi saat bersamaan, ia tidak pernah menanamkan rasa benci.
Sebaliknya, ia selalu mencintai umatnya karena Allah, dan dia hanya menjadikan aktivitas dakwahnya semata-mata mengharap pahala dan ridho Allah, bukan mengharap balasan dan ridho umatnya.
Wallahu a’lam