Menu Tutup

Pertama dan Terakhir

Saat sakaratul maut menjemputmu
Masih teringat kecupanku pada keningmu
Deras air mataku
Meleleh air matamu
Air mata kita sama-sama jatuh
Jatuh dalam cinta yang tulus
Jatuh dalam sayang yang murni
Dalam sesak dada penuh sesal
Aku yang hanya bisa mengecup penuh yakin
Saat detik-detik kepergianmu
Yang tak kan kembali
Membalas cintaku
Karena kecupan itu adalah yang pertama dan terakhir

Kini hari-hariku tanpa hadirmu
Sampai tiba masa aku pun menyusulmu
Kecupanku
Tetes air mataku
Bakti tulusku
Cinta dan sayangku
Hanya bisa aku nikmati
Di sepertiga malam
Di ba’da shalat fardhu
Di waktu duha
Di saat aku rindu padamu
Di saat aku terluka dan di lukai dunia
Di saat-saat itulah tak henti
Aku kecup kening kenanganku denganmu
Dengan doa-doa yang berharap sampai ke alam Barjah
Yang di sana engkau tinggal
Menanti yaumul hisab tiba

Ayah, kecuplah keningku sekali ini saja!
Aku ingin kau bangkitkan sadar akalku
Yang kini tak berdaya menanggung beban “kejamnya” dunia
Aku yang tak kuasa hapus tangis ibuku, kakak, dan adik-adikku
Aku ingin sekali kau peluk tubuh duniaku
Agar hangat kembali sambut mentari
Jalani hari sampai mati
Aku tetap teguh dalam dakwah berbasis ideologi
Untuk menghapus seluruh air mata keluargaku dengan ilmu, iman, dan amal
Bukan dengan tahta, harta, dan segala dusta dan tipu daya dunia
Ayah…