Hati yang kotor tidak akan tahu hati yang bersih. Ia akan melihat yang bersih menjadi kotor, dan yang kotor menjadi bersih.
Hati yang pernah kotor lalu kembali mengotorinya akan sulit hatinya menjadi bersih. Hingga semakin hati bertambah kotor, semakin kotor memandang kehidupan yang ia selalu sangka sebagai sesuatu yang bersih.
Hati yang bersih akan tahu hati yang kotor. Ia akan jelas melihat mana yang kotor dan mana yang bersih. Tidak sampai di sana, ia akan mampu memilih jalan hidup yang bersih dan berusaha menjauh dari kekotoran hidup dan jalan kehidupan.
Hati yang pernah bersih lalu mengotorinya, ada kemungkinan untuk menjadi bersih kembali atau tetap dalam kekotoran. Yang menentukan akan kembali bersih atau bertambah kotor adalah seberapa besar kekuatan iman yang dimilikinya. Semakin besar imannya melaksanakan ketaatan, semakin sedikit hati kotornya perlahan menghilang. Begitu juga sebaliknya.
Hati yang selalu berusaha menghapus kotoran dan terus menerus tiada henti membersihkannya adalah hati yang akan mendapatkan keselamatan. Itulah hati yang tiada henti meminta kepada sang Maha Penguasa hatinya untuk selalu dikaruniakan hati yang bersih dengan tidak henti mensucikan hatinya dengan istighfar, lisannya dengan dzikir, dan anggota badannya beraktifitas menjalan ketaatan dengan tak henti bertawakal saat sebelum, ketika, dan setelah berbuat ketaatan. Ia begitu yakin, hanya Allah lah yang bisa mensucikan dan membersihkan hati, pikiran, lisan, dan tingkah hidupnya. Bukan keimanannya, bukan kesolehannya, bukan ketaatannya, dan bukan kecerdasannya. Karena semuanya tetap sebagai karunia dan kasih sayang Allah.
Hati yang kotor dan terus mengotorinya dan tidak mau membersihkannya maka hatinya tetap akan kotor dan semakin kotor. Itulah hati yang sudah diliputi hawa nafsu dan telah menjadi hamba setan. Di samping hatinya telah diikat oleh kesombongan dan keangkuhan yang melangit. Meskipun mungkin dohirnya seperti orang soleh, atau dohirnya terang benderang beramal, berucap yang dihiasi kekotoran hidup.
Ya Allah, karuniakanlah pada kami hati yang selalu bersih, suci, dan bening meskipun kami sepenuh hati menyadari, bahwa tanpa karuniamu hati kami akan tetap kotor, dan dengan karuniaMu kami harus tetap merasa kotor agar Engkau selalu membersihkan hati kami sampai kami menghadapMu. Aamiin.