Anakku, jika engkau punya cinta, dan cinta itu engkau berikan pada lelaki yang engkau cintai, ibu harap cukuplah engkau simpan, atau alihkan kepada cinta yang lebih bermakna, dan akan memberikan kebahagiaan hidupmu dunia dan akhirat.
Masih banyak makna cinta yang suci, dari mulai mencintai Sang Maha Cinta dan mencintai mahluk-mahluk-Nya, yang engkau wujudkan cinta tersebut hanya semata karena Allah SWT sampai akhirnya tiba waktu jodoh menghampirimu, yang sebelumnya engkau telah campakan segala kehinaan cinta.
Yakinlah nak, engkau akan mendapatkan cinta dan kebahagiaan yang akan memberikan kenikmatan dunia dan akhiratmu.
Anakku, ibu mengerti, apa yang engkau rasakan tentang harapan dan impian cinta yang engkau idam-idamkan. Tapi ingatlah nak, selama cinta yang engkau miliki itu tidak diikat oleh pernikahan, selamanya cinta itu adalah palsu, menipu dan puncaknya akan menghancurkan hidupmu dunia dan akhirat. Ibu khawatir cinta itu akan menjadikanmu merana, menyesal dan menderita yang tak berkesudahan.
Anakku, berhentilah engkau berharap dan memuja kebahagiaan cinta yang tak halal. Ibu takut engkau akan menyesal tiada akhir, jika bencana itu tiba pada dirimu. Bencana itu ketika engkau dicampakan kekasihmu yang telah habis manis sepah dibuang; saat kau hilang kesucian, kehormatan dan harga dirimu, seperti sampah busuk di matamu, keluargamu, tetanggamu, temanmu, sahabatmu, masyarakat di sekitarmu, dan yang paling menyayat hati ibu—ketika bencana itu menjadikan Allah SWT murka padamu.
Wahai anakku, tidakkah kau sadar? Engkau adalah perempuan. Engkau ibarat cermin. Jika cermin itu pecah berserakan, apakah engkau mampu merekatkan kembali sempurna seperti sedia kala? Tidak, sama sekali tidak. Engkau tidak akan mampu mengutuhkan kembali cermin itu sempurna seperti semula.
Seperti itu juga, ketika cinta yang engkau miliki engkau hancurkan dengan mengikuti hawa nafsu birahi hanya untuk memenuhi naluri seksualmu semata, tanpa diikat oleh tali suci pernikahan. Sungguhlah rugi jika itu kau lakukan.
Wahai anakku, begitu banyak perempuan yang kehilangan masa depannya, kehilangan jati dirinya, dan kehilangan iman serta menjadi sampah busuk dalam kehidupan. Masa mudanya dihabiskan untuk memenuhi segala hasrat berhubungan biologis yang tak halal. Mungkin nikmat saat dipenuhi, tapi hakekatnya, dia telah menanam pedih dan derita hidup baik di dunia atau di akhirat.
Jika itu semua kau lakukan, entah apa yang harus ibu siapkan untuk mempertanggungjawabkan di hadapan bapakmu, dan di hadapan Allah SWT Sang Maha Keras dan Pedih siksanya.
Bukan hanya padamu, tapi murka itu akan juga ibu terima karena ibumu ini tidak bisa mendidik dan menjadikanmu sebagai perempuan yang solehah; ibumu yang tak pernah melarang engkau bergaul dengan lawan jenis yang bukan mahramnya; ibumu yang tak pernah berdosa ketika ibu biarkan engkau berdua-duaan entah di rumah atau di luar rumah dengan pacarmu; ibumu yang membiarkan engkau tidak segera dinikahkan saat engkau telah menginjak dewasa; ibumu yang selalu menganggap wajar pergaulanmu dengan pacarmu tanpa sedikitpun ibu merasa berdosa.
Sungguh betapa besar dosanya ketika ibu tidak bisa membekali hidupmu dengan akidah Islam dan syariat Islam. Sebaliknya, ibu hanya menganggap telah bertanggung jawab ketika ibu telah membekalimu dengan pakaian, makanan, minuman, uang jajan yang cukup dan segala kebutuhan raga lainnya.
Astagfirullah…Ya Allah, ampuni diriku yang lalai dan tak bisa menjadi ibu yang baik; ibu yang mampu mengatur kehidupan rumah tangga dan mendidik anak-anak dengan syariat-Mu.
Anakku, sebelum semua itu terjadi, ibu mohon kembalilah kau kepada jalan-Nya. Maafkan ibumu yang belum bisa mendidikmu untuk menjadi perempuan yang menjadi kebanggaan ibu—kebanggaan ketika engkau hanya mencintai laki-laki yang ingin bersamamu, hanya ketika telah di ikat pernikahan, dan laki-laki itu adalah orang yang mampu memapah dan mengantarkan perjalanan hidupmu ke surgaNya.