Masih saja terus berulang sebagian besar para remaja melalaikan hidup dengan menghabiskan cinta hanya sebatas rasa dan raga dalam bingkai pacaran. Namun ujung-ujungnya tetap berada dalam dosa.
Tidakkah cukup larangan Allah SWT yang mengharamkan perbuatan yang mendekati zina? Tidakkah takut pada murka Sang Maha Kuasa ketika diri selalu berlindung atas nama cinta atau hak asasi manusia, atau mungkin atas nama agama? Melegalkan pacaran atau ta’aruf karena hawa nafsu yang menjadi dewa tetap selalu berlaga dan menampakan kesombongan yang tiada terkira. Menolak larangan agama karena sudah terlanjur hawa nafsu menguasai jiwa.
Wahai para remaja! Tidakkah kalian suka Allah tunjukkan kebenaran yang nyata bahwa alasan apapun kalian pacaran, tetap saja semua hanyalah dusta. Sebab selamanya pacaran itu tidak akan pernah beri bahagia. Sebaliknya, hanya hina dan sesal yang akan selalu melanda. Kecuali, jiwa telah tunduk padi iblis sang durja. Kebenaran apapun yang hadir dalam jiwa, tetap akan sirna karena semua sudah dikelamkan dosa.
Wahai para remaja! Tidakkah kalian menyadari dengan segala fakta bahwa tidak pernah ada cerita yang pacaran akan masuk surga, memiliki akhlak yang mulia, menjadi manusia yang sukses dalam urusan agama dan dunia. Justru sebaliknya, pacaran hanya meninggalkan jejak-jejak dosa. Dari mulai berkhalwat yang jelas telah diharamkan agama. Meski pacarannya mungkin hanya ngobrol semata.
Tapi ingatlah wahai para remaja! Setan itu lebih cerdas ketika kalian selalu menuruti hawa nafsu belaka. Mungkin niat pacaran awalnya mulia. Yaitu sebagai sarana untuk mengarungi biduk rumah tangga. Tapi apa yang terjadi setelahnya. Setan secara perlahan terus menggoda. Mulanya hanya ngobrol semata. Teleponan dan sms-an yang berujung pada ketemuan ditempat wisata, di rumah orang tua, atau mungkin dengan jalan-jalan ke kota.
Ketika terus aktivitas itu ada. Sedikit demi sedikit ingin mencoba. Mulai pegangan tangan penuh syahwat yang durja. Lalu mencoba meningkat untuk memeluk raga. Membelai rambut penuh niat yang hina. Bibir pun perlahan mengecup kening sampai akhirnya ke bibir juga. Setan pun semakin besar menguasai jiwa dan imanpun akhirnya hilang entah kemana. Pelukan erat semakin memastikan dosa besar melanda. Puncaknya, tangisan sesal tiada terkira meledak seperti bom di Hirosima. Zinapun akhirnya terjadi juga.
Namun ketika sesal hanya sebatas sesal yang didominasi rasa. Setan pun semakin berkuasa menggoda dengan berbisik penuh bisa, “Sudahlah terlanjur dosa, maka ulangilah zina karena itu adalah kenikmatan yang tiada tara”.
Terus dan terus berulang sampai menuju ke neraka dengan segala siksa yang tidak mampu ditahan raga. Itulah akhir cerita pacaran yang awal dan akhir dipenuhi dosa. Tak satu pun ada kebaikan yang akan Allah terima. Justru hanya murka, murka dan adzab neraka.
Wahai para remaja! Tak ada cinta sejati dan abadi, tanpa menempuh pernikahan yang suci. Tanpa menambatkan cinta hanya karena semata Rabbul Izzati. Semua akan berakhir rugi. Ketika cinta hanya sebatas naluri dan hanya mengejar kenikmatan jasadi.
Wahai para remaja! Berhentilah bercinta atas nama hawa nafsu syaetoni! Sebelum sesal tiada arti menghampiri diri. Jika benar sama-sama cinta dan siap karena niat Allah semata. Pergilah cepat-cepat ke KUA! Jika ternyata, salah satu belum siap berumah tangga. Itu tanda dia tidak mau taat pada agama. Dia hanya menginginkan semata-mata cinta rasa dan raga.
Wahai para remaja! Tak perlu ragu, apalagi menunggu penantian cinta para peragu. Tinggalkanlah secepat pesawat jet melaju. Jika tak ingin cintamu layu dan membeku. Jika belum siap untuk menunaikan sunnah Nabi Saw. karena belum siap ekonomi, belum ada kematangan pribadi, belum punya ilmu yang tinggi, atau belum hadir iman yang jadi pondasi menempuh cinta sejati. Maka berhentilah berharap dicintai atau mencintai! Alihkanlah cintamu pada yang lebih berarti dan bisa menyelamatkan jati diri! Bisa pada olah raga agar naluri tak terus ikuti keinginan birahi. Bisa pada menuntut ilmu penuh khusu agar pikiran, raga, dan naluri tetap bisa terkendali. Atau bisa juga aktif berorganisasi agar punya pengalaman yang mumpuni, kedewasaan yang melampaui harapan diri, atau segala aktivitas yang bisa membuat Allah angkat derajatmu tinggi-tinggi.
Wahai para remaja! Jika semua itu kau lakoni, tapi kau tetap ingin ikuti cinta yang kotor dan penuh dengan duri. Itu tandanya hati telah mati dikuasai kehendak syaetoni. Mintalah pada Allah hati baru yang suci! Yang bersih dari segala cinta palsu yang selalu menipu diri. Jika Allah telah beri hati yang baru karena diri terus menjauhi segala bisikan syaetoni, dengan kepasrahan hanya pada ilahi. Mudah-mudahan di suatu saat nanti ketika jodoh telah Allah beri, engkau akan merasakan kenikmatan cinta yang murni dan sejati dalam naungan ridho ilahi.
Wahai para remaja! Sebelum hinggap semua sesal tiada guna. Hanya ada dua pilihan yang ada agar mendapatkan hakekat bahagia dari cinta yang kalian punya. Pertama, menikahlah karena Takwa! Kedua, bercintalah dengan-Nya dan karena-Nya dengan selalu berpegang teguh pada syariat-Nya! Doa kami selalu ada untukmu, wahai para remaja! Maafkanlah jika banyak kata yang melahirkan luka. Semua itu kami katakan karena cinta yang didasari takwa. Wallahu a’lam