Menu Tutup

Mengejar Eksistensi yang Lupa Diri

Keringat yg menetes hanya untuk tujuan eksistensi diri, untuk meraih puja puji, untuk menggenggam popularitas, dan membanggakan diri di hadapan manusia, itulah kesia-siaan hakiki perjalanan hidup.

Sebelum mendapatkan tujuan fatamorgana ini, ia sudah bangkrut karena Allah telah melupakannya, karena ia hanya ingat keakuannya.

Ketika mendapatkan singgasana eksistensi, Allah tanamkan sifat tuli untuk menerima kebenaran.

Dan saat tujuan itu hilang atau tidak dapat diraih, Allah manjakan ia dengan jiwa dendam, marah, benci, dan hasud sebagai wujud sempurnanya siksaan dunia.

Ketika ajal tiba, ia tak sempat bertobat, kembali padaNya, dan mengingatNya lahir batin, maka Allah sempurnakan balasan di alam kubur, sampai tiba akhirat, masa yg kekal menikmati sesal yg tak berujung.

Itulah gambaran singkat jalan hidup yg habis amalnya hanya untuk mengejar kebahagiaan palsu, dusta, dan menipu, itulah mengejar eksistensi diri hanya untuk kebahagiaan duniawi, tapi lupa diri, hingga Allah pun melupakan dirinya di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.