Jika hati keras
Pikiran terus panas
Naluri semakin ganas
Orientasi hidup semakin tidak jelas
Hari-hari berlalu di iringi dosa yang begitu deras
Mengaliri setiap napas
Yang terus terhempas
Menuju kehidupan yang tidak waras
Niat, ucap, dan tingkah tak lagi kembali pada nash
Akhirnya makna hidup habis terkuras
Oleh durjanya jiwa yang tak mau selaras
Ikuti iman yang pasrah penuh sikap yang puas
Kini hanya bisa menangis dalam gelak tawa jiwa
Yang selalu diramaikan oleh harpan-harapan nista
Mencoba pergi menyepi untuk dapatkan makna derita dan bahagia
Diantara serpihan-serpihan iman yang berserakan di dunia mineral, cangkang dan benda
Tapi masih saja membiarkan takwa tak berbaju dan tak bercelana
Karena rasa malu pada Allah yang sudah lama tiada
Saking seringnya menumpuk-numpuk noda, maksiat dan dosa
Kapankah akan kembali bahagia dalam hampa yang tiada dosa?
Sementara kepenatan rasio untuk uraikan logika taubatan nasuha
Selalu saja terputus oleh angan-angan iman yang sukanya menunda-nunda
Untuk kembali pada-Nya dengan segera
Memang hari-hari tak lepas dari ibadah ritual
Berlaga selalu memiliki akal
Dan tak henti untuk beramal
Menjauhi yang haram melaksanakan yang halal
Dengan harapan mendapat bahagia kelak di kehidupan yang kekal
Namun sayang seribu kali sayang, lupa akan satu hal
RidhoNya tak jadi pokok sebagai bekal
Dalam mengarungi lika-liku jalan hidup yang terjal
Sampai berakhir menemui ajal
Sungguh yang tersisa hanyalah sesal
Selama tak mengubah kesadaran akal
Menjadikan iman sebagai landasan amal