Menu Tutup

Akhir Kedustaan

Tak usah katakan ini adalah rindu
Cukuplah dimaknai kesunyian
Dalam jeritan luka para penyair yang selalu kesiangan
Menyambut setiap peristiwa peradaban cangkang kapitalisme
Karena mungkin mereka sibuk menyelesaikan keakuan
Yang thawaf cinta romantis sebagai akar kebajikan
Padahal cintanya telah lama bergumul dengan rasa
Yang mengukur hidup bahagia atau sengsara hanya sebatas naluri

Sudahi saja semua rasa kangen matahari pada bumi,
Jika hari-hari hanya wajah yang dipuja
Padahal semua akan berubah
Semua menyisakan perih dan luka yang terus berlomba
Menggapai patamorgana
Bukan keheningan yang berbalut cahaya
CahayaNya yang seharusnya jadi kerinduan abadi
Meski akhirnya harus mati
Ditinggal kekasih yang dulu habiskan iman
Untuk mengecup kening dunia
Dan melumat bibir nikmat kepalsuan dan tipuan
Yang selalu jadi pencarian akhir para pemuja sekuler

Aku tak kan lagi berbagi denganmu
Atas nama rindu atau cinta
Karena aku tahu cintamu telah habis oleh keakuan
Dan rindumu telah kering
Karena kehilangan kekasih yang dulu jadi keyakinan

Sementara hari ini
Dusta dan air mata
Menjadi satu padu
Dalam kelinglungan harapan
untuk menepi di bibir penyesalan

Tak ada cinta untuk para pendusta
Tak ada rindu untuk para pemuja nafsu
Tak ada kesetiaan untuk para pemberi harapan palsu
Tak ada ketulusan untuk para pengkoleksi cinta karena hanya tertuju pada rupa dan pada segala yang kasat mata
Tak ada kebenaran untuk para pembohong yang selalu berlindung atas nama kebenaran
Tak ada lagi semua untukmu wahai yang selalu permainkan kehidupan hanya demi nafsumu!
Karena nafsumu, semua dusta menjadi telanjang
Semua dustamu harus berakhir
Sebelum dusta membunuh imanmu


https://t.me/SastraPembebasan