Menu Tutup

Salahkah Jika Aku Menceraikanmu?

Bahagia, dimanakah kau berada? Apakah dalam tahta, harta, ataukah rupa?
Jika makna bahagia hanya sebatas yang kasat mata, aku tak bisa bersama denganmu berlama-lama. Karena aku manusia yang tak lepas dari lupa. Hingga aku takut menjadi semakin terlena, jika tak hadir dalam diri sikap takwa.

Namun, jika makna bahagia dikembalikan pada Allah Subhaana wata’ala, ternyata hanya ada ketika ridhoNya yang jadi tujuan utama.

Ketika ridhoNya sudah menjelma pada seorang hamba, niscaya seluruh isi dunia baik harta, tahta, rupa, atau segala kenikmatan dunia, pasti akan menghampiri juga.

Berbeda jika hanya nikmat dunia yang jadi tujuan utama, ridhoNya pasti tak akan pernah ada. Bahkan hanya berakhir hina dan siksa.

Lantas, masihkah diri ini tetap akan tertipu dan terlena, menjadikan hari-hari hanya semata mengejar kebahagiaan dunia. Sementara iman dan takwa tak menjadi landasan jiwa dan raga.

Sungguh diri ini rugi yang tiada tara, jika semua cita-cita berlabuh hanya untuk dunia yang fana.

Ya Allah, aku ini hanya sekadar hamba
yang baru berharap takwa menjadi pondasi segala aktivitas raga dan jiwa. Maka menjadi hal yang niscaya hamba berlindung padaMu selama hamba masih punya jatah usia untuk memalingkan segala tipu daya pernak-pernik dunia. Hingga hamba lupa
tujuan hidup hamba di dunia.

Ya Allah, tak ada lagi waktu hamba
untuk terus berleha-leha. Segeralah ceraikan hamba dengan cinta dunia agar hamba tak lagi tergoda ketika menempuh jalan hidup yang mulia, yaitu hanya untuk mengabdi padaMu tanpa hadir yang dua atau tak terhingga.

Cukupkanlah bahagia hamba ketika jalan dakwah dan jihad sebagai satu-satunya cita-cita sampai ajal hamba tiba.

Biarkanlah derita yang sementara menjadi sahabat setia hamba, ketika menempuh dakwah yang tak menjanjikan harta, tahta, atau rupa. Sebab hamba hanya ingin bahagia yang abadi dan sebenar-benar nyata, yaitu ridho dan surga yang akan Kau berikan pada hamba-hamba yang setia membela agama penuh keikhlasan dan takwa
sampai nyawa berpisah dengan raga.

Adapun untuk urusan dunia, cukuplah Engkau yang Maha Kaya yang mengurusku dengan tak henti aku berusaha menjemput segala qadhaMu, termasuk harta, atau rupa, dengan menempuh kausalitas sesuai hukum syara dan iman pada segala qadhaMu.

Salahkah jika aku ceraikan dunia, tanpa aku lupakan bagian dunia, hanya untuk kembali (tobat) padaMu sampai ajalku tiba dengan tak henti jadi pejuang agamaMu yang hanya berharap cinta dan ridhoMu?