Menu Tutup

Lisan yang Membelit Hati

Hampir saja aku mati, tercekik mulutku yang membelit hati. Syukurlah, akalku masih sedikit waras mengajak diskusi tentang diam.

Dengan lirih, rasa yang terluka, meminta mulut belajar berpikir, bagaimana rasa bisa tunduk pada cahayaNya agar akal berjalan bukan dengan api, tapi dengan diam yang menampung jutaan makna kata-kata.

Maafkan aku wahai hati, kemarin lupa apa yang aku katakan. Aku tak ‘kan mengulang rindu yang menyakitkan ketika tahu kau hanya suka madu, tapi enggan minum obat pahit yang menyembuhkan demammu yang tak biasa kena hujan dan terik mentari.