Jika puisiku hanya sebatas teman sepi, harusnya aku segera membuat kuburan sendiri karena tak bisa hentikan tangis derita pertiwi, dan tak mampu membebaskan manusia dari berhala diri.
Jika puisiku hanya sebatas luapan emosi tanpa aksi, harusnya aku segera pensiun dini daripada menanggung dosa karya palsu yang selalu menipu diri.
Jika puisiku hanya berputar kelilingi keindahan imaji, tanpa berbuah pengabdian tulus pada Ilahi Robbi, harusnya aku segera berlari menuju CahayaNya yang abadi.
Jika puisiku hanya ingin puas sendiri, tapi lupa derita luar diri, harusnya aku cukup jual karya untuk sesuap nasi, tak perlu bertopeng pakai idealisme, dan peduli pada rakyat dan kehidupan insani.
Jika puisiku tak mampu menggerakkan manusia untuk mengabdi pada Allah SWT sebagai Tuhan Sejati, harusnya aku berhenti saat ini juga berkarya gaya sufi, tapi manusia tetap puja selain Allah yang Maha Suci.
Jika puisiku tak mampu menumbangkan para penguasa yang keji, cukuplah puisiku di simpan dalam hati, dalam sesal tiada henti.
Jika puisiku tak bertuju pada kehidupan abadi setelah mati, cukuplah sampai di sini meyakini rukun iman yang tiada guna sama sekali, jika aku tak henti buat puisi hanya sekadar cari eksistensi, lupa tujuan hidup hakiki, lupa siapa diri, dan lupa bangkitkan umat untuk kembali pada konsep Islam sebagai agama sekaligus sebagai ideologi, yang lahirkan konsekuensi menegakkan kalimat Allah tinggi-tinggi di muka bumi, berjuang tiada henti menyambut janji Allah yang pasti untuk memenangkan agamaNya dari segala kuasa syaetoni. Maka tanpa semua keyakinan ini, aku harus pensiun dini, yang pernah bercita-cita jadi penyair dunia, tapi lupa pulang ke alam hakiki, akhirat sebagai kehidupan abadi.