Menu Tutup

Egoisme

Apa artinya kaya dengan ilmu, jika egoisme yang jadi panglima.

Apa artinya kaya dengan harta, jika egoisme yang jadi dewa.

Apa artinya kaya dengan jabatan, jika egoisme yang selalu jadi pujaan.

Sungguh perih hidup ini, jika semua apa yang dimiliki tak pernah memapah diri untuk rendah hati pada sesama, rendah diri di hadapanNya, dan tahu diri saat menilai diri sendiri.

Apa mungkin egoisme mampu menyelamatkan semua yang dimiliki, sementara orang egois tak pernah menyadari bahwa semua yang dimiliki itu adalah amanah dan kelak di yaumul hisab akan dimintai tanggung jawab.

Kemana jiwa mencari ketenangan dan kedamaian, jika egoisme yang selalu jadi tempat mengadu dan kekuatan untuk menampakkan diri dan menafikan luar diri.

Tidakkah sadar, bahwa egoisme itu adalah bencana kepribadian?

Semakin besar egoisme menguasai jiwa, semakin tipis harapan untuk bisa berdamai dengan diri dan luar diri.

Tidak pernah ada dalam sejarah bahwa orang egois bisa bahagia dan mendapatkan cinta tulus dari sesama.

Bisa saja ia dapatkan cinta, pujian, penghormatan, dan segudang kata-kata yang menadikan dirinya bangga dan semakin jumawa. Namun tetap saja semua hampa dan berakhir hina.

Karena ketika orang lain menghormati, memuji, dan mencintainya, semua itu bukan karena dirinya yang layak dipuji dan dicintai, tapi mungkin hartanya, ilmunya, rupanya, atau bisa juga karena jabatannya.

Jika masih ada orang yang menjadikan hartanya, ilmunya, kesolehannya, akhlaknya, jabatannya, gelarnya, dan keturunannya sebagai sarana untuk meraih eksistensi, berupa pengakuan, pujian, dan penghormatan luar dirinya, niscaya apa yang nanti ia dapatkan, semua akan berujung pada kebanggaan semu, kebahagiaan palsu, dan kemuliaan patamorgana.

Karena ia lupa satu hal, egoisme tak pernah bisa memberikan kebahagiaan hakiki.

Sebaliknya, egoismelah yang selama ini menghalangi manusia untuk mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian hakiki ketika berada di tengah-tengah manusia. Wallahu a’lam