Menu Tutup

KEKELIRUAN MEMAKNAI KEBAHAGIAAN

Tidak ada seorang manusia pun di dunia ini yang hidupnya tidak ingin bahagia. Semua manusia pasti selalu memimpikan dan ingin meraih kebahagiaan.

Tak jarang untuk wujudkan kebahagiaan tersebut, mereka menggunakan segala cara, bahkan menghalalkan segala cara dalam meraih kebahagiaan.

Namun apa yang didapat? Apa yang dulu diidam-idamkan dan selalu dihayalkan ternyata ketika telah diraih, justru menanam kepedihan dan penderitaan.

Dulu ketika miskin membayangkan menjadi orang kaya. Setelah kaya, ternyata bahagia tidak ditemukan.

Dulu ketika belum punya jabatan, selalu membayangkan andai punya jabatan, segala yang diinginkan akan dapat diwujudkan. ternyata, ketika jabatan dimiliki, hati selalu dihantui kekhawatiran, ketakutan, dan ketidakpuasan semua yang telah dimlikinya. Dia takut jabatan hilang, dia khawatir jabatannya direbut oleh orang lain, dan dia tidak puas dengan jabatan yang telah diraihnya.

Dulu dia membayangkan punya istri atau suami yang cantik/ganteng dan kaya. Tapi setelah harapannya terwujud, ternyata apa yang dulu diinginkan seringkali berakhir dengan penyesalan.

Itulah fakta yang seringkali hadir dalam realitas kehidupan manusia ketika kebahagiaan diartikan sesuatu yang mengenakan rasa dan fisik, dan kebahagiaan keliru mengartikannya.

Apa sebenarnya yang menjadi penyebab banyak manusia yang selalu ingin mengejar kebahagiaan, tapi sering berakhir dengan derita, kehinaan, dan kesengsaraan? Mengapa banyak manusia yang terjebak dengan makna kebahagiaan, yang justru bukan kebahagiaan, tapi kebalikannya.

Ternyata bahagia itu bukanlah tujuan manusia, tapi konsekuensi dari tujuan yang dimiliki manusia. Artinya manusia seringkali lupa dan mungkin banyak yang tidak tahu–terlebih seorang muslim, yang seharusnya menjadi tujuan hidupnya adalah sebagai budak Allah yang harus selalu mengikuti segala aturan Allah yang dibuatNya untuk seluruh umat manusia di dunia.

Bahagia itu ternyata hanyalah hasil, bukan tujuan. Sebenarnya tujuan manusia itu hanya untuk ibadah. Ibadah itu artinya melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah, baik yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan sesama, dan manusia dengan dirinya sendiri.

Islam mengajarkan kepada umat Islam untuk selalu meraih kebaikan atau kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan selalu memohon perlindungan dari Allah agar kelak di akherat dijauhkan dari api neraka. Namun perlu di ingat, itu bukan tujuan manusia, tapi konsekuensi dari tujuan yang dimilikinya.

Kebahagiaan/kebaikan di dunia dan akhirat itu akan diraih manusia, ketika manusia melaksanakan tujuan hidup manusia, yaitu menjadi hamba Allah yang taat dan tunduk secara total dalam menjalani kehidupannya di dunia. Jadi, bahagia itu bukan tujuan, tapi konsekuensi dari tujuan yang dimiliki manusia. Wallahu a’lam