Ketika kehidupan mengajarkan tangis, tentang rasa asin air mata yang menetes di ujung bibir, seharusnya memberi isyarat pada ucap, bahwa kebaikan Allah tidak selalu semanis madu. Ada kalanya asin kehidupan adalah sesuatu yang sangat berharga. Meski jarang sekali kebanyakan orang memaknai dan memberi penghargaan padanya. Ibarat sayur tanpa garam, maka akan terasa hambar rasanya.
Vegitu juga memaknai kehidupan. Ketika tangis yang menemani, janganlah larut dalam kesedihan. Berikanlah kesyukuran. Sebab, seandainya hidup hanya ditemani tawa, mungkin kelupaan kepada Sang Maha Pemberi tawa, menjadi sebuah keniscayaan.
Kita pun akhirnya tak jauh berbeda dengan orang gila di pinggir jalan. Padahal bisa jadi kitalah yang sebenarnya gila. Karena kita hidup hanya tahu tawa, atau hidup hanya tahu tangis. Kedua kondisi yang kontradiktif ini
tak pernah menghadirkan iman terhadap segala ketetapan-Nya.
Jadi, jika tangis yang menyapa, atau jika tawa yang mendiami jiwa, istiqomahlah untuk selalu berbaik sangka pada Allah Sang Maha Kuasa atas segala sesuatu agar pahala terus mengalir, yang mengantarkan kita ke surga.
Aamiin.