Menu Tutup

MANUSIA SEMPURNA ADALAH MANUSIA YANG SELALU BUTUH ORANG LAIN


Tadi malam saya bermimpi tentang bagaimana mengurus diri dan mengurus orang lain. Mungkin siang harinya saya merasa bingung menghadapi seseorang yang susah diatur dan terkesan tidak mau diatur.

Singkat cerita, dalam mimpi tadi malam, ada tiga pesan yang saya dapatkan. Pertama, selalu memotifasi diri sendiri. Menjadi hal yang sulit terwujud ketika kita mengurus orang lain agar orang lain mengikuti apa yang kita intruksikan terkait dengan kebijakan, aturan main organisasi, atau keputusan-keputusan hasil dari musyawarah, sementara diri kita sendiri tidak paham, tidak mau tunduk, dan menjadi yang pertama melaksanakan segala amanah yang diberikan pada kita.

Sederhananya, jangan pernah kita berharap orang lain akan taat dan tunduk pada kita, jika kita sendiri tidak taat dan tunduk pada apa yang kita putuskan atau apa yang sudah menjadi aturan main organisasi. Jadi, mulailah untuk selalu memotifasi diri sebelum memotifasi orang lain.

Jadilah yang pertama selalu optimal menunaikan segala amanah diri, keluarga, organisasi, pekerjaan, dsb dengan penuh kesadaran iman, tanggung jawab, profesional, penuh perhitungan, penuh kesadaran untuk selalu ingin belajar memperbaiki kekurangan diri, dan selalu ingin menjadi yang terbaik dalam pandangan Allah.

Kedua, selalu memberi motifasi pada orang lain dengan penuh cinta dan hikmah. Memotifasi orang lain hakekatnya memotifasi diri sendiri. dengan sering kita memotifasi orang lain, maka dengan sendirinya kita sedang memotifasi diri kita sendiri.

Jangan sampai kita memberi motifasi pada orang lain agar tidak boleh berhenti untuk belajar, untuk menambah tsaqofah Islam sebagai kekuatan kita dalam mengemban dakwah Islam di tengah-tengah umat.

Sementara kita sendiri selalu malas hanya untuk meluangkan waktu satu atau dua jam saja sehari untuk membaca dan mengkaji tsaqofah Islam. Jangan harap motifasi itu akan berbekas dan berpengaruh.

Ketiga, setelah kita mampu merealisasikan sedikit demi sedikit untuk selalu memotifasi diri dan memotifasi orang lain, maka kita harus siap selalu mengontrol segala hal yang telah kita putuskan dan kita kerjakan. Artinya, apa yang kita kerjakan dan apa yang kita putuskan tidak selalu memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan atau yang ditargetkan.

Agar kekecewaan tidak melanda diri kita, maka rajin-rajinlah untuk selalu mengevaluasi setiap keputusan yang direalisasikan. Bisa jadi kita lalai menjalankan amanah, bisa jadi kita masih banyak yang tidak tahu apa yang harus dikerjakan, dan bisa jadi diri kita belum memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan setiap amanah yang diberikan pada kita.

Pelajaran yang bisa saya ambil dari mimpi tadi malam diantaranya, setiap harapan tidak akan selamanya dapat diwujudkan secara sempurna sesuai yang kita harapkan. ini adalah bukti bahwa diri kita adalah manusia yang tidak luput dari kelemahan dan kekurangan.

Namun, menjadi tidak bijak jika kita sudah tahu kekurangan dan kelemahan, tapi kita sendiri tidak pernah mau mengambil pelajaran dari setiap kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan kita yang menimpa diri kita, lalu kita mencari-cari kesalahan orang lain untuk menutupi kelemahan, kekurangan, dan kesalahan kita.

Seharusnya ketika kenyataan tidak sesuai atau belum sempurna sesuai dengan harapan kita, kita langsung membaca diri kita sendiri penuh dengan kesadaran untuk mewujudkan hari esok supaya lebih baik lagi, bahwa kita akan tahu kekurangan kita saat kita mau jujur pada Allah, pada diri, dan orang lain bahwa kita masih butuh untuk terus belajar memperbaiki kekurangan dan kelemahan kita pada orang lain.

Kita tidak akan pernah menjadi orang yang sempurna, selama kita tidak pernah merasa butuh pada orang lain dalam hal memperbaiki kekurangan dan kelemahan kita sendiri. Karenanya, wajib bagi kita untuk selalu saling menasehati dan mengingatkan dalam kebenaran dan kebaikan hanya karena Allah dan hanya karena ingin mendapat pahala dan ridho Allah SWT. Wallaahu a’lam.