Menu Tutup

Membaca Kehidupan

Membaca zaman itu dengan membaca arah pikiran.

Membaca peradaban itu dengan membaca apa yang dikerjakan.

Membaca kehidupan itu dengan membaca pikiran dan perbuatan.

Membaca diri itu, sungguh banyak yang tuli dan tak mau peduli.

Itulah naasnya tragedi peradaban cangkang kapitalisme-sekuler.

Sibuk membaca luar diri, tapi miskin membaca diri.

Padahal, membaca diri dengan wahyu Ilahi, bukan hanya mampu membaca luar diri, zaman dan peradaban, tapi mampu membaca di balik kehidupan dunia.