Menu Tutup

Budak Citra dan Topeng

Sehari tak pamer wajah
Rasanya hidup mau kiamat

Sedetik saja tak “kampanyekan kebaikan”
Rasanya hampa hidup ini

Sejam tak membanggakan kedudukan, harta, dan rupa
Rasanya tidak enak makan tidak enak tidur

Begitulah warna-warni peradaban cangkang
Menyembunyikan kejujuran,
menghabiskan hari-hari
menjajakan kebohongan
yang selalu dibalut ikhlas
diselimuti dermawan
dilindungi kebaikan
ditutupi ketulusan
dimanteli kesolehan
sampai dikuburi asma-asma Tuhan

Ada apa gerangan dengan banyak kulit
dijemur matahari kebodohan?

Memberi bukan lagi karena peduli
tapi takut ditinggal pergi
oleh ribuan puja-puji

Shalat siang shalat malam
Baca Quran tak ketinggalan
Duha didawamkan
Yang sunnah atau diwajibkan
Ditunaikan penuh dengan kegembiraan
Tapi mengapa harus beriklan
Mengabarkan kesolehan pada semua orang
Padahal hati menjerit
ditusuk-tusuk kebodohan
Akal meradang
Iman selalu digadang-gadang

Apakah ini yang Allah dan Rasul perintahkan?

Di manakah kebermaknaan ketaatan?
Jika hari-hari haus pencitraan
Selalu lapar untuk mendapatkan pujian dan kemuliaan
dari mahkluk yang sama-sama hina

Jika saja nasib manusia di akhirat
ditentukan oleh banyak sedikitnya
pujian dan pujaan dari sesama,
lantas mengapa Allah haramkan ridho dan surganya
pada manusia-manusia yang haus kemuliaan dan penghormatan dari sesama karena kesombongan, kebohongan, dan kebodohan?

Tapi aneh sungguh heran
Yang mengaku berTuhan
Yang meyakini ada pahala dan siksaan
Yang percaya ridho dan pahalaNya hanya akan didapat
ketika niat, ucap, dan tingkah murni hanya karenaNya dan hanya untukNya semata,
selalu saja sibuk menghabiskan nafas kehidupan
hanya untuk mengejar citra dan pujian
padahal itulah yang menjadi semua pangkal
amalnya akan hilang seperti debu yang berterbangan dihembus angin topan di tengah malam yang gelap dan kelam

Oh, penduduk planet narsistius!
Tidakkah sadar semua citra adalah pangkal hina dunia dan akhirat?