Menu Tutup

BAHAGIAKU INGIN SEPERTI CELANA DALAM

Jika bahagiaku seperti aku memakai celana dalam, yang tak seorang pun tahu warna, model, dan harganya, hanya aku sendiri yang tahu segalanya, tentunya aku tidak lagi peduli seberapa menderita, hina, dan sengsaranya hidupku dalam pandangan manusia.

Aku akan tetap hidup bahagia tanpa mesti berpura-pura bahagia, mengiklankan kebahagiaan, atau mengemis pada orang agar memberi kebahagiaan padaku.

Karena tak pernah ada seorang pun yang bertanya, berapa harga celana dalamku, apa warna celana dalamku, apa model celana dalamku, dan darimana aku beli celana dalam?

Orang lain tidak akan pernah tahu dan mau tahu apakah aku bahagia atau menderita. Mereka sendiri sibuk memikirkan diri mereka sendiri.

Kecuali, aku ingin tambahan kebahagiaan yang tak terhingga, bagaimana aku selalu hidup untuk memberi bahagia pada luar diriku, yang hanya berharap Allah semata yang membalas dan memberi kebahagiaan padaku.

Tentu ada dua hal yang harus aku jadikan filosofi untuk mendekap kebahagiaan. Pertama, bahagia itu bukan dicari, tapi cukup tunduk pada segala titah Ilahi menempuh kausalitas sesuai hukum syara, dengan sendirinya bahagia menghampiri.

Kedua, jangan pernah berharap orang lain memberi kebahagiaan untuk mendapatkan kebahagiaan diri sendiri. Tapi berilah selalu kebahagiaan pada luar diri dengan mencintai dan membencinya hanya karenaNya.

Mengapa tidak dengan mencintainya saja? jika hanya cinta yang diberi, tanpa di dampingi benci karenaNya, biasanya orang hanya tahu bahagia atau menderita itu hanya sebatas rasa, bukan berdasarkan kehendakNya dan syariatNya.

Lepas dari itu semua, yang pasti saat ini bahagiaku ingin seperti aku memakai celana dalam, titik.