Menu Tutup

Para Perusak Agama

Terinspirasi dari Syekh Abdul Qadir Jailani, dalam kitabnya, Al-Fath ar-Rabbani wa Faydh ar-Rahmani, hlm. 43.Beirut: 1998.

Menurut beliau bahwa manusia itu terbagi pada empat tipikal sebagai penghancur dan perusak agama.

Pertama, tidak mengamalkan apa yang diketahui. Sudah tahu kebenaran Islam, tapi tidak mau mengamalkannya. Mungkin karena tidak mau, atau karena sudah tertipu oleh kenikmatan duniawi, atau juga karena hawa nafsu setan sudah menjadi tuhannya.

Kedua, mengamalkan apa yang tidak diketahui. Kebenaran dan kebaikan hanya disandarkan pada selera rasa, pikiran dan hawa nafsunya, bukan disandarkan pada hukum syara. Ia lebih suka mencintai hawa nafsunya daripada kebenaran Islam. Hingga ia, tidak ada kesungguhan mencari kebenaran Islam. Ia hanya bersungguh-sungguh terhadap tradisi dan kebiasaan nenek moyangnya. Ia lebih membela apa yang mereka yakini dan mereka inginkan daripada Islam, Allah SWT, Rasul Saw, dan orang-orang Mukmin.

Ketiga, tidak mencari tahu apa yang tidak diketahuinya. Entah karena kemalasan, kebencian, atau karena sudah menjadi karakter tidak mau mencari kebenaran. Akhirnya, ia selalu mencukupkan apa yang diketahuinya, tapi tidak mau mencari apa yang tidak diketahuinya. Kebenaran baginya hanyalah yang kasat mata dan ketika banyak orang yang mengikutinya. Tidak lagi bersandar pada kebenaran menurut Allah dan Rasul Saw.

Keempat, menolak orang yang mengajari apa yang tidak diketahuinya. Karena kesombongan dan rasa gengsinya yang menguasai pikiran dan perasaannya, ia berani menolak kebenaran apapun dan dari siapa pun, meski hati kecilnya mengakui kebenaran tersebut. Ia hanya akan menerima kebenaran dari apa yang tidak diketahuinya ketika sesuai dengan selara hawa nafsunya, orang yang ia sukai karena hawa nafsunya, dan dapat memberi keuntungan yang bersifat material.

Yang saya tangkap dari beliau, bahwa hancurnya dan rusaknya agama karena kebodohan, kesombongan, dan ketidakhadiran kebenaran Islam dalam sikap, pemikiran dan perbuatan para penganutnya.

Ketika kita tahu Islam adalah agama yang diturunkan Allah untuk seluruh umat manusia, dan Islam sesuai dengan fitrah manusia. Tetapi kita tetap tidak mau diatur Islam.

Sebaliknya, kita lebih suka diatur oleh aturan yang dibuat manusia yang secara fitrah adalah lemah, serba kurang, dan selalu membutuhkan pada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Maka jika itu terus dipertahankan, tunggulah kehancuran umat manusia, yang hari ini telah nampak tanda-tanda kehancurannya yang menimpa hampir seluruh lini kehidupan.

Ketika kita mengerjakan apa yang tidak kita ketahui, apakah pekerjaan tersebut bertentangan dengan Islam ataukah tidak. Sementara kita terus saja meyakini ini adalah kebenaran. Kelak orang-orang seperti ini akan menjadikan kebodohan sebagai panglimanya dan kesesatan akan selalu menyertainya.

Seperti halnya, umat Islam yang tidak tahu kekufuran demokrasi. Tapi masih saja teguh mengamalkan sistem kufur ini. Niscaya orang seperti ini akan selalu merasa benar tanpa paham siapa sumber hakekat kebenaran.

Ada umat Islam yang tidak tahu sistem Islam itu menyeluruh mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk sistem negara. Tapi dia tidak mau mencari tahu kebenaran sistem Islam. Selama itu pula ia akan tetap menjalankan apa yang ia tahu, walaupun bertentangan dengan Islam. Dan ia akan semakin jauh dari kebenaran Islam karena tidak pernah mau tahu tentang kebenaran Islam.

Ada juga umat Islam yang menolak kebenaran Islam, dan ia sendiri tidak tahu kebenaran Islam. Ia akan terus berada dalam kecongkakan dan kehinaan di mata manusia, dan terlebih dalam pandangan Allah. Ia selalu menolak kebenaran yang diberikan orang lain. Sementara dia sendiri tidak tahu tentang kebenaran tersebut.

Itulah empat perkara yang akan menjadikan hancurnya dan rusaknya agama Islam, ketika umat Islam sendiri masih memiliki sikap dan tingkah laku untuk selalu tidak mengamalkan sesuatu apa yang diketahui, mengamalkan sesuatu yang tidak diketahui, tidak mencari tahu apa yang tidak diketahui, dan menolak orang yang mengajari apa-apa yang tidak diketahui. Wallahu a’lam.