Menjadi omong kosong bicara umat dan agama. Tapi hati ini masih cinta penuh pada dunia.
Menjadi hampa yang tiada guna. Setiap saat bicara tegakkan Islam secara sempurna. Dari urusan diri, masyarakat, sampai pada level Negara.
Namun sayang, diri ini masih merasa paling bertakwa. Padahal hari-hari tak ada usaha mendekat dengan ikhlas pada yang Maha Kuasa.
Apa jadinya diri yang selalu merasa
Paling paham politik dan agama. Namun selalu lupa memperbaiki akhlak yang mulia. Padahal itu juga bagian dari hukum syara.
Sombong masih dipelihara. Meskipun diri sering tidak merasa. Begitu juga angkuh selalu jadi sajian utama ketika berhadapan dengan sesama manusia.
Apa jadinya diri yang selalu semangat melontarkan analisa terkait berbagai fakta politik yang terindera, atau yang berada di balik fakta.
Tapi memperbaiki diri selalu lupa. Tsaqofah Islam dikejar biasa-biasa. Hingga pemahaman sebatas kata. Tidak sampai merasuk pada sukma.
Akhirnya merasa cukup dengan ilmu yang sudah ada. Tapi angkuh semakin menggila. Merasa sudah berpikir mendalam dan cemerlang. Padahal dangkalnya tiada terkira
Apa jadinya diri yang semangat berdakwah. Tapi mendekat pada Allah selalu lemah.
Ibadah hanya sekadar gugur kewajiban. Yang sunnah selalu ditinggalkan. Keringnya iman menjadi sebuah kepastian.
Ujung-ujungnya dakwahpun jarang meninggalkan kesan yang mendalam karena selalu karam oleh rasa malas, atau godaan bisikan setan.
Idealnya iman terus bertambah dengan ibadah-ibadah sunnah. Ilmu semakin merekah dengan tak henti menggali tsaqafah Islam penuh gairah.
Dakwah semakin semangat dan terarah. Akhlak mulia menjadi hiasan ucap dan tingkah. Ikhlas menjadi satu-satunya yang selalu menghiasi niat, ucap dan tingkah, yang selalu tercurah hanya untuk menggapai ridho-Nya, yang menjadikan Allah percepat tegakknya khilafah. Itulah yang seharusnya ada pada diriku dan para pengemban dakwah.