Kritik adalah salah satu ruh proses perubahan menuju arah yang baik dan benar.
Mengkritik pada dasarnya menginginkan kebaikan terhadap orang yang dikritik.
Dikritik hakekatnya ada keburukan pada orang yang dikritik agar berganti menjadi kebaikan.
Sampai di sini kritik menjadi hal yang benar-benar dibutuhkan oleh setiap yang mengaku dirinya manusia. Dengan fakta, bahwa tidak ada manusia yang sempurna.
Namun kritik akan menjadi sesuatu yang berbahaya, ketika kritik berakhir pada kebencian.
Persoalannya, kritik sering berbuah kontraproduktif dan berujung pada keburukan, baik itu yang mengkritik ataupun yang dikritik.
Kritik yang berakhir konflik dan saling menyalahkan adalah salah satu gejala makna kritik sudah bergeser pada subjektifitas dan lebih mengedepankan pribadi daripada pemahaman dan fakta objektif. Baik itu dilakukan oleh pengkritik atau oleh yang dikritik.
Ada orang yang sibuk memikirkan kesalahan orang lain, tapi ia lupa kesalahan sendiri. Biasanya ia akan rajin memgkritik, tapi tidak mau dikritik.
Ada juga orang yang sibuk memikirkan kesalahan sendiri, tapi tidak mau mengkritik kesalahan orang lain. Biasanya ia lebih banyak diam dan memberikan teladan.
Ada orang yang tidak peduli pada orang lain dan dirinya sendiri. Ia tidak mau mengkritik dan tidak mau juga dikritik.
Lalu, bagaimana kita menyikapi kritik dalam konteks kehidupan sosial agar kritik itu sendiri tetap pada fungsinya sebagai bagian hukum syara, bukan sebagai alat untuk menjatuhkan harga diri seseorang?
Ketika ada orang yang suka mengkritik orang lain, tapi hidupnya tidak lebih baik dari orang yang dikritik, berarti ada penyakit hati yang tidak disadari saat ia rajin mengkritik orang lain.
Begitu juga ada orang yang sering dikritik orang lain, tapi hidupnya tidak lebih baik dibandingkan dengan orang yang mengkritiknya, berarti ada naluri eksistensi yang menguasai kesadaran akalnya, yang membuatnya sulit untuk berubah menjadi lebih baik setelah dikritik.
Maka tempatkan kritik berdasarkan iman dan hukum syara, supaya kritik menjadikan hidup kita selalu menuju ke arah kebaikan.
Jadi, yang harus dipahami oleh setiap orang, bukan masalah mengkritik atau dikritik. Tapi apakah setiap kali melakukan kritik, kesadaran iman dan hukum syara hadir ataukah tidak?
Itulah yang akan menentukan, apakah kritik akan melahirkan kebaikan ataukah keburukan bagi yang mengkritik atau yang dikritik? Wallaahu a’lam