Mungkin aku manusia kemarin,
bukan hari ini dan hari esok.
Wajar saja,
cermin yang selalu jadi temanku
untuk selalu berkaca,
membuatku sering lupa
menyapa senyum
mentari pagi
hangatkan tubuhku.
Dan aku juga lupa
bagaimana sapaku pada mentari esok harinya.
Haruskah mengejar bayang,
mendekap tubuh dengan erat,
sambil bercermin saat yang sama.
Padahal aku perlu mencangkul waktu
menanam benih hari yang pasti
agar esok tahu arti cermin bagi hari ini.