Menu Tutup

inikah dzikir palsuku

Kapan Allah mengingatku? Saat aku ingat padaNya. Kapan Allah melupakanku? Saat aku mengingat selainNya.

Mengingat Allah itu karuniaNya yang paling agung. Dan melupakanNya adalah kerugian terbesar dalam kehidupan.

Sayangnya, mengingatNya aku sering sambil lalu. Mengingat selainNya selalu menjadi nomor satu.

Shalatku tak pernah ketinggalan. Namun, ingatanku padaNya selalu ketinggalan.

Takbirotul ihram dilafadzkan. Masih saja sombong dan angkuhku diakbarkan dalam hati, dalam ucap, dalam laku.

Permohonan ampunan dan dijauhkannya diri dari salah dan dosa selalu dipanjatkan. Anehnya, di luar shalat, hanya salah dan dosa yang selalu dikejar.

Al-Fatihah tak bosan aku bacakan. MemujiNya, memujaNya, mengagungkanNya, berjanji kepadaNya, memohon pertolongan, petunjuk, dan meminta dijauhkan dari kemurkaan dan kesesatan.

Lagi-lagi, aku tetap saja memuji sendiri, memuja tahta dan harta, mengagungkan dan membanggakan diri yg merasa paling pintar, paling soleh, dan paling baik; tetap saja aku memohon pada selainNya, aku berharap pada selainNya, aku selalu menempuh jalan bengkok, aku selalu gembira dalam ucap dan laku penuh kemaksiatan dan kesesatan.

Sungguh shalatku, hidupku, dan matiku nyataNya bukan untukNya, bukan menyembah dan tunduk padaNya. Aku tetap tunduk dan menyembah pada selainNya.

Inikah dzikir palsuku? Mengaku selalu ingat, tapi hari-hariku penuh dengan lupa. Aku lupa padaNya, aku lupa kematian, aku lupa alam kubur, dan aku lupa kehidupan akhirat yg abadi.