Menu Tutup

Aku terluka bukan karena kau tinggalkan diriku. Tapi aku terluka karena kau tak mau berjuang, hidup matimu untuk berdakwah bersamaku sampai cinta kita terpisah karena ajal tiba.

Aku merana bukan karena kau tak sambut cintaku. Tapi aku merana karena kau tak sambut seruan Allah untuk tegakkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Aku tak henti jatuh hati untuk temukan cinta dalam cacian orang-orang yang suka mencaci, makian orang-orang yang suka memaki, celaan orang-orang yang suka mencela, hinaan orang-orang yang suka menghina, cibiran orang-orang yang suka mencibir, guyonan orang-orang yang suka berguyon, dan olok-olok orang-orang yang suka mengolok-olok.

Derita inilah yang membuatku semakin teguh. Sakit inilah yang membuatku semakin kukuh. Dan pedih inilah yang membuatku semakin utuh menelusuri onak dan duri, hanya untuk pertahankan ideologi sejati; menjadikan wahyu ilahi
sebagai sumber pikirku; sekaligus sebagai sumber metodeku untuk tetap mengembalikan kehidupan Islam untuk rahmat pada seluruh alam.

Setumpuk uang, sebongkah berlian,
atau bahkan kekayaan seluas langit dan bumi, aku disuap untuk menanggalkan dakwah ini, tetap aku lebih suka berada di gubuk keterasingan; di tengah-tengah keramaian para pemuja tahta, harta, dan rupa.

Jika ada yang bilang perjuanganku adalah utopis, aku tegaskan, iman itu abstrak, surga itu ghaib, dunia ini ilusi, dan Rasul saw. juga pernah seperti itu. Beliau Saw. dituduh gila, tukang sihir, penyamun dan lain sebagainya. Tapi dunia baru percaya ketika karya tak henti di wujudkan, keringat tak henti dikeluarkan, dan darah tak henti dialirkan. Yang semuanya lahir karena iman. Dunia pun baru sadar. Singgasana kekuasaan Islam berhasil menguasai 2/3 dunia.

Begitu juga yang terjadi hari ini. Ruh sejarah kembali terulang. Janji Allah yang pasti bahwa khilafah akan tegak kembali. Meski kebanyakan manusia mencibir dan melecehkan. Biarkanlah sunatullah berjalan. Karena iman itu di kalbu. Biarkan amal yang akan tunjukkan kebenaran Allah pasti segara datang.

Kini aku hanya ingin bercinta dengan “luka”, yang berharap penuh optimis akan membawaku ke surgaNya (in sya Allah). Aku hanya ingin bercinta dengan “derita”, yang akan mengantarkan janji-Nya tiba. Aku hanya ingin ditemani keringat dan darah, jika itu yang dibutuhkan untuk menebus janji-Nya.

Kalaupun kemarin matahari menyengat cinta palsuku, yang melepuh di atas pelataran kenikmatan semu yang selalu menipu, tak usah aku pikirkan kembali
saat ini. Sampai ajal menjemputku, aku hanya ingin cintaku berbuah surga, dengan tak lelah dan tak henti perjuangkan khilafah agar cepat kembali, meski harus menderita karena ditinggal cinta pada harta, tahta, dan rupa.